Google+ Followers

Sabtu, 30 April 2011

BERPIKIR SISTEMIK DALAM PEMBELAJARAN

Oleh : Drs. Abdul Jalil Machmud, M.Pd.I


A. Pendahuluan
Sistem adalah suatu konsep yang abstrak. Definisi yang umum menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Rumusan ini sangat sulit dipahami, dalam artian yang luas suatu pengertian system muncul karena seseorang telah mendefensikannya demikian. Kesimpulan yang umum dapat dinyatakan sebagai berikut : misalnya sepeda adalah suatu system, yang meliputi komponen-komponen seperti roda, pedal, kemudi dan sebagainya, akan tetapi dalam artian yang luas, sepeda sebenarnya adalah suatu subsistem/komponen dalam sistem trasmportasi, disamping alat-alat transportasi yang lainnya, seperti mobil, motor, angkutan kota dan sebagainya.
Berpikir sistemik adalah suatu pendekatan dari metode ilmiah, ini merupakan sistesis pemecahan masalah yang berhasil dan telah banyak digunakan orang pada bermacam-macam ilmu pengetahuan.
Menurut Roestiyah, NK Pendekatan sistemik dalam pembelajaran bertujuan agar kita dapat mengerti masalah pembelajaran sebagai suatu keseluruhan secara tuntas dan dapat mendalamai pula bagian-bagiannya. Diharapkan pula dengan berpikir sistemik dalam pembelajaran kita dapat memahami pula cara bagaimana masing-masing itu saling berinteraksi, saling berfungsi dan saling bergantung didalam suatu sistem untuk mencapai tujuan tertentu.
Jadi suatu sistem dapat saja menjadi suatu sistem yang lebih kompleks, yang berarti bahwa kita yang mempertimbangkannya sebagai system, dan kita sendiri yang menentukan batas-batas dari system itu sendiri.


Konsep diatas menjai dasar untuk mengidentifikasi tujuan suatu system, tujuan suatu system dapat bersifat alami dan bersifat manusiawi. Tujuan yang alami tidak mungkin menjadi tujuan yang tinggi tingkatanya, bahkan mungkin bernilai sangat rendah. Tujuan system yang bersifat manusiawi (man-made) senantiasa dapat berubah, yang dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan lingkungan yang senantiasa berubah, akibat perubahan lingkungan atau karena tujuan itu bersifat perorangan (personal). Pada dasarnya perubahan tujuan system adalah sebagai jawaban terhadap perubahan-perubahan dalam lingkungan.
Untuk mengetahui kemampuan suatu sistem, kita tidak perlu mengetahui secara rinci proses yang terjadi. Kita dapat mengetahuinya melalui kontrol terhadap output dan melalui sistem umpan balik (feedback). Misalnya seorang Menteri Pendidikan Nasional ingin mengetahui apakah sistem pendidikan yang dilaksanakan dapat diandalkan dalam rangka mempersiapkan generasi muda menjadi calon warga negara yang baik, produktif dan sebagainya. Untuk itu pak Menteri tidak perlu mengetahui secara rinci apa-apa yang terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, tetapi pak Menteri dapat melihat keampuhan sistem pendidikan Nasional berdasarkan produk atau output yang telah dicapai.
Konsep berpikir kesisteman ini perlu dikaji lebih dalam terutama dalam bidang pendidikan dan pengajaran sebagai wujud kepedulian para pendidik dan mereka yang peduli terhadap dunia pendidikan agar tujuan Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 dapat terwujud. Untuk itu penulis mencoba mengangkat permasalahan tersebut yang tertuang dalam makalah yang berjudul : BERPIKIR SISTEMIK DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH.

B. Pendekatan Sistemik dalam Pembelajaran di Sekolah

1. Konsep Pendekatan Sistem dalam pembelajaran
Konsep pendekatan sistem mulanya digunakan dalam bidang teknik untuk mendesain sistem elektronik, mekanik dan militer. Dalam hal ini pendekatan sistem melibatkan sistem manusia dan mesin dan selanjutnya dilaksanakan dalam bidang keorganisasian dan manajemen. Pada akhir tahun 1950 dan awal 1960-an pendekatan sistem mulai digunakan dalam bidang latihan dan pendidikan (merumuskan masalah), analisis kebutuhan dengan maksud mentransformasi kannya menjadi tujuan-tujuan (analisis masalah), desain metode dan materi intruksional (pengembangan suatu pemecahan masalah), pelaksanaan secara eksperimental, dan akhirnya menilai dan merevisi.

Menurut Oemar Hamalik konsep diatas sebenarnya merupakan cara penjelasan pendekatan sistem yang kurang efektif karena memberikan kesan seolah-olah prosesnya linear yang selangkah demi selangkah harus diselesaikan lebih dulu sebelum melaksanakn langkah berikutnya. Padahal kenyataannya tidak demikian, karena pemecahan masalah terkadang melibatkan lompatan-lompatan kedepan yang berdasar pada pemahaman seketika. Karena harus dilengkapi dengan panah-panah dari kotak satu ke kotak lainnya, atau ke depan dan belakang, ini mengakibatkan bagan itu menjadi sulit untuk untuk dibaca.
Selain itu bagan tersebut memberikan kesan bahwa prosedur berjalan secara mekanistik, mengikuti aturan-aturan yang telah ditentukan pada setiap langkah sebagaimana prosedur dalam komputer. Padahal setiap langkah tidak mengatur semua kejadian tetapi merupakan petunjuk berpikir dan bukan merupakan proses berpikir.
Roestiyah, NK menguraikan suatu sistem pada dasarnya mengandung 3 (tiga) aspek yaitu :
(a) tujuan
(b) Isi dan
(c) Proses
(a) Sistem itu mempunyai tujuan
Sistem dibangun dari bagian-bagian atau komponen dan sejumlah komponen itu adalah isi dari sistem.
(b) Isi sistem disusun untuk mencapai suatu tujuan
(c) Operasi dan fungsi komponen itu dihubungkan dalam instruksi untuk mencapai tujuan sistem, itulah yang disebut proses sistem.
Suatu sistem dapat diidentifikasikan oleh tujuannya. Tujuan menjelaskan pada kita apa yang harus dikerjakan, tujuan menentukan pula proses apa yang harus ditempatkan.

2. Sistem Pembelajaran di sekolah
Pengertian dari sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Sesuai dengan rumusan tersebut maka unsur manusia yang terlibat dalam sistem pembelajaran tersebut adalah siswa, pengajar (guru), dan tenaga kependidikan lainnya.
Sedangkan unsur material meliputi buku-buku, papan tulis, kapur/spidol, fotografi, slide, film, audio dan video tape (lebih umum disebut media pendidikan). Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audiovisual bahkan juga komputer. Lebih lanjut komponen unsur material ini bisa juga disebut sebagai sumber belajar. Menurut Ahmad Rohani sumber belajar (learning resourses) adalah segala macam sumber yang ada diluar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar.
Sumber belajar inilah yang memungkinkan peserta didik (siswa) berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak trampil menjadi trampil. Dan dari sumber-sumber belajar itu pula siswa bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang terpuji dan mana yang tercela. Dengan cakupan yang lebih luas sumber belajar adalah pengalaman-pengalaman yang sangat luas, yakni seluas kehidupan yang mencakup segala sesuatu yang dapat dialami dan dapat menimbulkan proses belajar, yakni adanay perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
Menurut Roestiyah, NK , sumber belajar itu meliputi :
a. Manusia (dalam keluarga, sekolah dan masyarakat)
b. Buku/perpustakaan
c. Mass media
d. Lingkungan
e. Alat pelajaran (buku, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, spidol dll)
f. Museum
Sedangkan menurut Sudirman,N, dkk , bahwa macam-macam sumber belajar itu adalah :
a. Manusia
b. Bahan (materials)
c. Lingkungan (setting)
d. Alat dan perlengkapan
e. Aktivitas yang meliputi :
1. Pengajaran berprogram
2. simulasi
3. karyawisata
4. sistem pengajaran modul

Prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, penyediaan waktu untuk praktek, belajar, pengetesan/ujian dan penentuan tingkat kebaikan kelas/kelulusan.
Secara umum sistem pembelajaran di sekolah senantiasa ditandai oleh organisasi dan interaksi antar komponen untuk mendidik siswa belajar, sesuai dengan tujuan utama dari sistem pembelajaran yakni siswa yang belajar. Sebagai unsur utama dalam sistem pembelajaran, siswa harus diarahkan agar dapat belajar dengan efektif dan efisien. Oleh karenanya tugas seorang perancang (designer) sistem pembelajaran (baca:guru) adalah bagaimana mengorganisasi manusia, material dan prosedur agar dapat berinteraksi secara optimal (sebagai suatu sistem) dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran di sekolah.
Selain itu dalam rangka mendesain sistem pembelajaran di sekolah yang efektif dan efisien serta dapat diserap oleh siswa didik secara maksimal, maka guru sebagai designer harus mampu menyusun pola pembelajaran secara sistematis, yang dapat melukiskan strategi pembelajaran secara utuh.
Selengkapnya sistem pembelajaran menurut Syaiful Bahri Djamarah meliputi komponen-komponen : tujuan, bahan pelajaran (substansi), kegiatan belajar mengajar (proses), metode (cara), alat dan sumber belajar serta evaluasi.
Pada komponen tujuan, merupakan cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan sistem pembelajaran yang biasanya berisi deskripsi tentang penampilan prilaku (performance) murid-murid yang diharapkan setelah mempelajari bahan pelajaran yang diberikan. Komponen bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan. Komponen kegiatan belajar mengajar adalah inti dari kegiatan pendidikan atau yang disebut proses belajar mengajar yang melibatkan semua komponen pengajaran. Komponen metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, biasanya metode yang bervariasi dan tepat penggunaannya akan lebih mudah pencapaian tujuan pembelajaran. Komponen alat dan sumber belajar merupakan sesuatu yang dapat digunakan sebagai perlengkapan dan sarana belajar yang diperlukan dalam rangka mempermudah usaha mencapai tujuan. Pada komponen evaluasi dimaksudkan sebagai suatu tindakan atau proses untuk penentuan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan, biasanya evaluasi ini diarahkan pada 2 dimensi yaitu evaluasi proses dan evaluasi produk. Evaluasi proses diarahkan untuk menilai bagaimana pelaksanaan pembelajaran itu dilakukan, sedangkan evaluasi produk diarahkan kepada bagaimana hasil2 belajar yang telah dilakukan terkait dengan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran.



3. Strategi disain sistem pembelajaran
Strategi sistem pembelajaran ialah suatu perencanaan untuk menggunakan prosedur disain agar lebih efektif. Prosedue disain melukiskan bagaimana cara memilih dan mengorganisasikan komponen-komponen dalam sistem pembelajaran. Tetapi karena proses disain adalah hal yang sangat kompleks, maka kita harus mempunyai suatus strategi disain yang akan menolong seorang desainer (baca:guru/dosen) untuk mengevaluasi semua alternatif yang penting dan sampai pada kesimpulan bahwa pencapaian tujuan sistem itu lebih efisien.
Pada dasarnya suatu disain sistem terdiri dari tiga tahap :
(a) analisis kebutuhan sistem pembelajaran
(b) mendisain sistem pembelajaran
(c) mengevaluasi sistem pembelajaran secara efektif
Dalam menganalisa kebutuhan sistem pembelajaran, terdapat 2 masalah sistem yang dikhususkan : pertama, bagaimana kita dapat melukiskan tujuan dari sistem pembelajaran dan kedua, bagaimana kita dapat melukiskan kegunaan/manfaat dan hambatan-hambatan yang ada sehingga ada kemungkinan bertentangan dengan tujuan yang akan dicapai dalam sistem pembelajaran tersebut. Dengan memikirkan tujuan, sumber dan hambatan-hambatan secara bersama-sama, maka seorang disainer dalam posisi ini juga mengevaluasi semua kemungkinan komponen sistem dan metode untuk mengorganisasikannya. Dalam tahap mendisain sistem pembelajaran, seorang disainer menyeleksi dan menyusun komponen-komponen yang utama dan prosedurnya, yang akan digunakan dalam suatu sistem dan mencoba melaksanakan sistem pembelajaran itu.
Dalam tahap evaluasi disainer membandingkan penampilan aktif dari sistem pembelajaran dengan penampilan dalam perencanaan. Sistem itu boleh menjadi redisain tergantung pada perluasan perbedaan antara perencanaan penampilan aktif dari sistem gambar dibawah ini akan melukiskan 3 tahap dari strategi disainer sistem pembelajaran.

Prosedur kedua tahap dari ketiganya dalam perencanaan disain sistem itu ialah tercakup dalam masalah tujuan belajar, diskripsi tentang tugas, tipe-tipe belajar dan analisa tugas. Dalam masalah itu diperlihatkan bagaimana mengidentifikasikan dan menyeleksi tujuan belajar, dan bagaimana memilih dan mengurutkan bahan pelajaran itu. Kemudian disainer harus menunjukkan pula bagaimana cara menyeleksi dan mengorganisasikan pembelajaran siswa secara maksimal. Prosedur dalam tahap disain ini disebut evaluasi sistem yang efektif.

Bila ditinjau dari konsep pendidikan Islam, sistem pembelajaran dapat kita jumpai pada wahyu pertama QS.Al Alaq : 1-5, dalam kelima ayat tersebut jelas mengandung pesan yang dapat ditafsirkan sebagai sistem pendidikan dan pengajaran. Pada ayat tersebut sekurang-kurangnya terdapat lima 5 komponen pendidikan :
(1) komponen guru (yaitu Allah, SWT) karena Dia-lah yang memerintahkan membaca kepada Nabi Muhammad SAW.
(2) komponen murid (Nabi Muhammad SAW) yang diperintah untuk membaca yang bisa diartikan secara luas termasuk mengobservasi, mengklasifikasi,membandingkan, mengukur, menganalisa, menyimpulkan dan sebagainya.
(3) komponen metode, yaitu membaca (iqro’) sehingga ada istilah metode iqro’
(4) komponen sarana-prasarana (diwakili kata qalam) dalam arti yang seluas-luasnya termasuk alat tulis, alat hitung, alat rekam dan alat/sarana prasarana lainnya.
(5) komponen kurikulum (‘allamal insana maa lam ya’lam), yang tidak hanya terbatas pada sejumlah mata pelajaran, tetapi mencakup pula berbagai sumber belajar yang berada dilingkungan sekolah dan masyarakat sepanjang hal itu belum diketahui manusia dan dibutuhkannya.

Dari analisa sederhana diatas, jelaslah bahwa al Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam sangat menaruh perhatian yang besar terhadap sistem pembelajaran.

C. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa berpikir sistemik dalam pembelajaran adalah proses berpikir yang didasarkan pada masalah pembelajaran sebagai suatu keseluruhan secara tuntas dan dapat mendalami pula bagian-bagiannya.
Setidaknya ada 3 hal uang utama dalam sistem pembelajaran yaitu : memiliki tujuan (dalam UU SPN disebut sebagai standar Kompetensi lulusan), memiliki Isi yang dirancang untuk memenuhi kewajiban dan beban belajar, serta ada Proses yang berjalan dalam rangka mencapai tujuan sistem pembelajaran.
Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusia, material (fasilitas, perlengkapan) dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.



BAHAN BACAAN

Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam, Grasindo, Jakarta, 2001
Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta
Roestiyah, NK, Masalah Pengajaran Sebagai Suatu Sistem, Bina Aksara, Jakarta, 1982
Roestiyah, NK, Masalah-masalah Ilmu Keguruan, Bina Aksara Jakarta, 1989
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta,1996
Sudirman,N,dkk, Ilmu Pendidikan, Remaja Rosda Karya, Bandung, Cet. V, 1991
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Sebagai Suatu Sistem, Bumi Aksara, 2003
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pemerintah Propinsi Lampung, 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar